Showing posts with label Architect-tour. Show all posts
Showing posts with label Architect-tour. Show all posts

11/16/11

When it's built and they love it..



variasi aktifitas warga di taman tebet | sumber: woofphotoalbum

Mengingat kisah 4 tahun lalu, ketika tiga orang mahasiswa di tanah sunda sedang berada dalam perjalanan akhir kemahasiswaanya yang cukup padat.. sebuah info akan kompetisi Public Park di Ibukota Jakarta hadir di hadapan mereka. Tanah seluas 2.6 hektar yang terbengkalai dan cenderung menjadi area negatif buat kota, tepatnya di wilayah bagian kota Tebet itu.. kian di sayembarakan untuk dijadikan taman kota baru... mengingat target pencapaian 30% rth di Ibukota Jakarta.

Melalui perundingan kecil, tim nfn pun siap beraksi.. begitu sekiranya sebutan ketiga orang mahasiswa tersebut. Pembagian waktu akan pengerjaan tugas akhir dan sayembara dirasakan cukup seru.. semangat, marah, sedih, tawa, gila... semua bercampur sampai pada akhirnya tepar namun selesai.. hehee.. Berita gembira muncul dari panitia tepatnya Dinas Pertamanan dan Pemakanan Jakarta yang menyatakan bahwa karya kami berhasil menjuarai kompetisinya.. tepar pun senantiasa berubah bahagia..

Tawaran pun cenderung muncul untuk ikut menggarap pembangunan taman kota tersebut, tapi dengan polosnya tim menolak karena target tugas akhir yang juga sedang dikejar waktu.. Jadi, selesailah sudah.. tak berkabar.. dan tak berkabar............... *imajinasi daun-daun kering berjatuhan dan tertiup angin..


ekspressi anak-anak ketika bermain di playground | sumber: mediaindonesia

Sampai pada penghujung tahun ini tepatnya 2011, penulis tak sengaja menemui berbagai artikel menyebutkan "taman tebet" .. yang isinya merupakan testimoni para pengunjung Taman Kota Tebet dari berbagai sudut pandangan.. asik membaca, sambil tersenyum dan menggumam bahagia "ohh, jadi juga yaa.. syukurlahh..". Melihat ramainya taman ini dikunjungi, merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi perancang ketika ia menyadari telah berkontribusi untuk membentuk SENYUM warga kota.

nfn

12/4/09

NFN goes to campus!


THE INVITATION

11 September 2008, semula ini merupakan sebuah acara study tour mahasiswa arsitektur tingkat 2 dan 3, yang tentu saja NFN tidak termasuk di dalamnya karena sudah berstatus sebagai ENDING-SEASON student.. yaitu mahasiswa tingkat 4 yang sedang sibuk2nya menjalankan tugas akhirnya. Dengan iming2an itung2 jalan2 gratis ke salah satu Gedung rancangan Ridwan Kamil sang pendiri URBANE ini NFN cukup tertarik.

Universitas Tarumanegara as it appears

Dengan tanpa mengurangi kerendahan hati NFN pun diundang sebagai perwakilan presentasi kampus akan karya2-nya. Tentu saja di bidang kompetisi desain yang telah dilalui NFN selama masih menjalani perkuliahan. Dengan penuh tanggung jawab, NFN pun bersedia menerima undangan tersebut. Berangkat bersama-sama mahasiswa lain, NFN menaikin Bus Pariwisata.. and brangkaaatt...

NFN menuju spot presentasi

Sebagai perwakilan kampus untuk mempresentasikan karyanya ke kampus lain menjadi sebuah kebanggaan tersendiri buat NFN yang terdiri dari Novan, Fajri dan Nutrian. Grup arsitek kecil yang memulai karir mereka dari kesamaan visi akan menyelesaikan tugas bersama dalam bidang Landscape Architecture ini berangkat dengan persiapan presentasi khusus yang akan dipersembahkan untuk kawan mahasiswa arsitektur di kampus Universitas Tarumanagara.

Bahan presentasi NFN, 1st winner Taman Tebet Competition


Tanya jawab pun tidak terelakan dari tiap-tiap presentasi, kritik dan sanggahan pun tidak lupa dilontarkan oleh audiences terutama para Dosen Arsitektur Univ. Tarumanagara. Tapi memang sangat seru dan menegangkan, dan hal seperti ini yang sepertinya diharapkan.. Seperti Paul Arden said "Do not seek for Praise, seek for critisism.." Jadi semuanya saling bertukar ilmu satu sama lain..


AT GEDUNG 28

Mahasiswa dan mahasiswi berada di pintu kedatangan

Next Destination yang juga sebagai Final Destination untuk Study Tour mahasiswa di jakarta ini. Sebuah bangunan yang terletak di sudut persimpangan jalan di kemang menjadi pilihannya. Bangunan yang dikenal dengan sebutan Gedung 28 ini merupakan salah satu masterpiece dari Arsitek kenamaan Indonesia yang berkantor di Sektor 1 BSD. Dikenal sebagai Arsitek yang merancang dari dasar komposisi dan keindahan yang sejalan dengan keindahan wanita ini, Andra Matin menggubah dua fungsi masa yang saling terintegrasi menjadi sebuah bangunan yang membawa kita akan space-intrigue yang mengejutkan.

Point of View dari semarak kumpulan garis pada fasade

Ekspressi garis bidang pada fasade menjadi bagian paling dominan yang tampak pada bangunan ini. Dengan tidak mengurangi ekspressi2 tersebut, sang perancang membubuhi bagian2 tertentu dengan beberapa titik tangkat yang mungkin dapat menjadi ciri khans bangunan ini saat selintas terlewatan. Sebuah karya yang mudah diingat, itulah ciri karya Bapak Andra Matin.


Salah satu ruang unggulan dengan romantika tanpa nyawa

Pak Aang, begitu sapaan akrabnya, merupakan arsitek yang mengagumi akan kejujuran material yang hampir selalu menjadi andalan bapak tampak sekali pada bangunan ini diungkapkan secara lugas olehnya. Permainan Elevasi yang cukup manis digarap dengan sempurna oleh sang perancang. Gedung 28 menjadi salah satu mahakarya bangunan yang menjadi banyak inspirasi para calon2 arsitek muda indonesia.. Konsep implisit namun nyata menjadi salah satu keunggulan Gedung 28 ini.

Ketika pengunjung berinteraksi dengan isi museum (model: Novan from NFN)

4/3/09

Bermain di Apartemen BCW


Trip date:

19th December 2008
Role models:
Anindita CL, Gosha Muhammad, Kustiani (Tihe)

Hmm... Siapa yang tidak kenal BCW..!! (statement yang cukup hiperbolis memang). Tapi “barudak cecomoh bandung” pasti pada kenal BCW. Ya jelas, BCW jadi mudah dikenal karena selain pembangunannya yang kontroversial dengan ke-heritage-an jalan braga, bangunan ini juga menjadi mini superblock pertama yang ada di bandung. Menurut saya sebagai pengunjung sekaligus “pemerhati yang masih junior” sebutan citywalk agaknya kurang pas disandang bangunan ini karena olahan masa dan sirkulasinya lebih tepat dibilang dikategorikan sebagai mall atau square. Bangunan yang bertajuk mix-used building ini (hotel, apartment, serta pusat perbelanjaan dan hiburan) cukup menjadi salah satu ajang baru buat para pelancong yang hobby jalan dan shopping... eits!! tapi cerita kita bukan dimulai disitu....


Suasana hujan - Tower 1 Aston Hotel dan Apartment

Pagi hari yang cerah ditemani rintik-rintik hujan yang membasahi kota, menjadi teman perjalanan studi sekumpulan mahasiswa ITENAS yang sedang mengambil mata kuliah seminar atau skrisi. Perjalanan merupakan trip tunngal yang menuju "Aston Apartment" di jalan braga (yup!! tepat berdiri diatas pusat perbelanjaan dan hiburan Braga City Walk). Sebagai bangunan bisa dibilang cukup baru (dibangun pd tahun 2004-2005), Aston Appartement menyajikan sentuhan rancangan moderen kontemporer yang cukup minimalis pada tiap huniannya. Bangunan middle rise ini (18 lantai appartement) menyediakan 171 unit hunian yang siap huni,tentunya dengan klasifikasi yang bervariatif.

Misi dimulai dengan
briefing sejenak sebagai penyampaian “license n agreement” (seperti email saja) dari pihak marketing aston apartment di BCW, yang semula kami kira dari pihak perancangannya karena kemampuannya menguasai beberapa materi dan konsep rancangan dari BCW ini. Tapi tentu para dosen dan mahasiswa antusias mengajukan beberapa pertanyaan2 yang cukup menarik sekaligus bisa dikatakan kritis. Briefing pun selesai, dan para peserta memulai perjalanan studi-nya.


Suasana Briefing

Sebelum menuju ke unit-unit appartement, kami disambut oleh kehangatan lobby utama yang cukup minimalis. warna coklat berbaur cream dengan lighting yang manis menjadikan ruangan ini sangat ramah menjamu lamunan visual kita. Woops, mengapa ada locker? atau rak sepatu..? setelah diamati ternyata kotak surat buat para pengguna appartement.. seperti yg ada di depan rumah kita itu, hanya saja ini dikumpulkan menjadi satu zona umum.


Kotak surat dan sofa pada main lobby.

Seusai melewati lobby, lift dengan zona khusus unit appartement pun mulai dicoba, apa lagi yang akan menyambut kita selain koridor appartement. Dengan konsep double-loaded corridor spertinya pihak perancang siap menghadapi kelemahannya seperti sirkulasi udara dan pencahayaan matahari langsung. Jadi jika tanpa perlakuan khusus koridor akan menjadi gelap sekaligus lembab.


Koridor appartement - View ke luar dari appartement

Dan sepertinya perancang sudah mencoba mengurangi dampak tersebut dengan membuat bukaan udara sekaligus cahaya yang cukup lebar (hampir selebar koridornya). Dengan upper-single hung windows yang merupakan solusi ter-optimal dalam sirkulasi udara dipasangkan pada kedua ujung koridor yang diharapkan dapat terjadi sirkulasi udara yang optimal pada koridor.


Handle jendela koridor - Jendela dibuka pada koridor

Selain kenyamanan tentunya perancang tidak lupa perihal keamanannya, yups tentu saja… kebakaran. Powder extinguishers, fire/emergency exit dan fire alarm disiapkan dengan cukup matang, tapi tentu saja pelatihan periodik juga perlu dilaksanakan. Sejauh ini pihak appartement sudah melakukan pelatihan rutin setiap 2 bulan skali.. hmm cukup ya spertinya.


Powder Extinguisher - Fire/emergency exit - Fire alarm

Nah, ini dia yang paling kita tunggu… observasi ke unit hunian, namun karena keterbatasan waktu dan tempat observasi dilakukan hanya pada 2 jenis unit hunian. Kedua jenis unit hunian tersebut merupakan tipe standard suit-one bedroom (sepertinya cocok untuk pasangan muda) yaitu tipe minimalis oriental dan tipe minimalis amazon.

Minimalis Oriental

Mendengan kata oriental.. warna "merah" yang mungkin pertama kali ada di pikirankita dan tentunya hal lain yang berhubungan dengan budaya-budaya bangsa cina. Ketika memasuki hunian ,nuansa merah mendominasi ruang, selain itu detail-detail oriental pun sedikit dimunculkan pada beberapa sisi, sekalipun itu hanya merupakan aksesoris temporer dari ruangan. Tapi tentu saja dominasi warna dan detail tersebut diselaraskan dengan konsep minimalis contemporer, sehingga kesan masa kekinian yang modern cukup bisa dirasakan. Pola ruang open plan dengan bentuk “letter L” sepertinya cukup menjawab kebutuhan secara optimal pada unit hunian yang tidak terlalu besar itu. Berikut hierarkinya: dining-living-bath-bed.


Living room - Dining room

Ruang makan yang tidak cukup besar, diakali menggunakan cermin upper-half body sebagai permainan visual akan volume ruang, yang cukup membatu walaupun jadi sering dimanfaatkan sebagai alat narsis diri.. woops! no joke here please, hehe. Selain merah sepertinya warna-warna keemasan turut memenuhi ruang-ruang dalam hunian ini. Mungkin agar terkesan glamour dan terasa bagaikan kaisar cina.

Kitchen - Dining room - Bedroom

Minimalis Amazon

Hutan Amazon, lho kenapa koq hutan bisa dijadikan konsep hunian? Yups, sebisa mungkin perancang memasukan unsure hutan ke dalam hunian. “Hijau” merupakan element terpenting dari sebuah hutan, sebab itu perancang memasukan unsur warna hijau dan gradasinya ke dalam hunian. Balutan warna hitam dan coklat turut dikombinasikan secara harmonis pada ruangan. Unit hunian ini cenderung lebih kecil daripada unit tipe oriental, pola ruang hanya berbentuk kotak dan open plan, dengan hierarki yang sama: dining-living-bath-bed.


Dining room - Aksesoris patung pedalaman

Unsur-unsur hidup juga dicoba diaplikasikan di beberapa sudut ruangan yang setidaknya menambah kesan hutan ke dalam hunian. Patung-patung pedalaman yang cukup simple agak mewarnai nuansa ruang. Untuk persoalan ruangan mini perancang lagi-lagi menyelasikannya dengan penggunaan cermin upper-half body. Kamar tidur yang tidak terlalu besar di optimalkan dengn penggunaan ranjang rendah, sehingga kesan sempit dapat diminimalisasi.


Living room - Bedroom

Perjalanan yang sangat menarik dan inspiratif bagi mahasiswa arsitektur, diharapkan pihak kampus sering-sering mengadakan perjalanan studi seperti ini.
Setujuuu.....!!

11/17/08

Kampoenk Wana..? dari perspektif masa kini


Berita gembira datang dari ujung selatan pulau Sumatera, hmm.. kalo ada yang mengira itu Sumatera Selatan, perkiraan itu salah besar karena ujung selatan Sumatera ini adalah Lampung, yang biasa dikenal akan sekolah gajah Way Kambas-nya itu. Menarik memang, tapi sayangnya untuk pelancong rancang bangun, sepertinya ada yang lebih menarik lagi. Pernah mendengar Kampung Wana? tentunya belum ya.. penulis blog ini pun yang telah lebih dari 15 tahun hidup di tanah Lampung bahkan belum pernah mendengar kampung yang berada di Lampung Timur itu. Beruntung sekali IAI Propinsi Lampung yang dikepalai oleh Alm. Bpk Riau ini memberikan undangan ke seluruh mahasiswa penjuru Negeri ini untuk datang ke Provinsi Lampung dan mengenal “Kampung Wana”.
Ternyata antusiasme mahasiswa dari pulau Jawa cukup baik, karena perwakilan dari Yogyakarta-pun ikut hadir dalam undangan ini. Dan 6 gelintintir mahasiswa Bandung pun siap menyeberangi lautan menuju Sumatera. Karena perjalanan cukup jauh, maka kami beristirahat semalam di kota pantai “Kalianda” sambil menikmati ikan bakar.. hmm.

Pagi hari nan cukup sejuk ditemani hangatnya nasi uduk pantai ini menjadi saksi perpisahan dengan kota kecil Kalianda ini.. and... “Kampung Wana, here we come..!!”. Sudah hampir 5 jam di dalam mobil rusa nan abu-abu kebiru-biruan, akhirnya tiba juga di kampung yang bisa dibilang masih terasa kampungnya.. karena tidak ada bangunan beton atau baja yang kami saksikan terbangun di deretan kampung pinggir jalan ini. Kampung pinggir jalan? ya, sejalan dengan perkembangan jalur transportasi darat, sebuah jalan aspal penghubung Lampung-Palembang membelah kampung ini..



Sebelum berkeliling kami berkumpul sejenak untuk sekedar menyaksikan kuliah kecil yang disajikan oleh arsitek besar.. Hmm, siapa yang tidak kenal dengan Yori Antar, salah satu petinggi di “Han Awal & Partners Architect". Ranah lingkup yang dibahas bang Yori adalah Fotografi Arsitektur, memang hobinya si abang dari Jakarta ini adalah menjepret-jepret elemen arsitektural dan Beliau tidak tanggung-tanggung berbagi tips & trik kpada mahasiswa2 ini. Cukup ilmu kami kantongi dan sebuah istilah “man behind the gun” yang diucapkan bang Yori terus menjadi senjata saya dalam berkarya.



Kami pun berkeliling kampung.. dan tetap tidak lupa si mesin jepret siap dalam genggaman. Bangunan rumah panggung yang berjejer di sepanjang jalan tak hentinya menyita perhatian, entah mengapa begitu awetnya eksistensi bentuk-bentuk banguan rumah adat ini ditengah perkembangan jenis material bangunan saat ini. Sekalipun selimut-selimut kecil pada beberapa bangunan memang sudah merupakan bahan genteng (yang semula merupakan ijuk) dan bahan beton, seperti tangga, ataupun pagar.. Tapi bentuk dominan bangunan ini tetap menonjol. Sekalipun ada bangunan yang berusia muda, bentuk bangunan tetap kembali pada bangunan lama. Identitas sosial warga sepertinya ditunjukan dengan permainan warna pada rumah mereka.



Setelah membelah kampung ini dengan jalan mungkin dianggap asing bagi warga kampung, sepertinya pemerintah belum puas sebelum memasangkan bongkahan-bongkahan beton pejal pada setiap halaman depan rumah-rumah yang lemah ini. Ke-ambiguan akan persepsi terhadap pagar beton yang dirasakan 2 pihak memang cukup krusial bagi gejolah psikologis.. Pihak pemerintah menjadikan pemasangan pagar pejal itu sebagai solusi keamanan dari kendaraan yang melintas, namun sepertinya warga merasa hubungan sosialnya agak ter-pagari..



Ditinjau dari estetika, kemunculan pagar tebal tersebut akan sedikit mengurangi keindahan sebuah rumah panggung dengan kaki-kaki mungilnya. Pertanyaan kembali muncul, mengapa semua rumah adat merupakan rumah panggung. Sebenarnya bukan sebuah mitos khusus yang coba mereka terapkan, namun karena dahulu keberadaan manusia dan hutan (dengan hewan2-nya) sepertinya agak berdampingan.. hal tersebutlah yang membuat mereka memutuskan untuk memisahkan hubungan dengan hewan (terutama yang membahayakan) ketika mereka ingin nyaman berada dirumah sendiri.. Untuk kampung wana ini, eksistensi bentuk panggung masih diterapkan, karena lingkungan kebun hampir hutan masih tetap menjadi lingkungan dominan di kampung ini. Hirearki ruang rumah panggung yang diterapkan dalam rumah ini cukup simple dan linear dari bagian depan hingga belakang rumah.

Image Hosted by ImageShack.us


Dari hirearki tersebut sudah dapat dibayangkan bahwa rumah dengan order linear yang memanjang ke belakang. Tapi dalam penerapannya ada 2 jenis ke-linearan yang di pakai, yaitu linear lurus dan linear L.



Berbicara tentang rumah panggung, sebuah transformasi yang dapat diamati pada kampung wana ini adalah ruang dibawah panggungnya. Fungsinya memang tidak berubah yaitu sebagai gudang penyimpan barang, baik itu bahan bakar maupun bahan makanan mentah atau hasil panen.. Hanya saja ketika zaman berubah toleransi akan setiap orang semakin memudar, kepentingan pribadi mulai menguat.. Pengambilan barang milik oranglain yang seenaknya mulai tumbuh dan berkembang pada benak orang2 yang tidak bertanggung jawab. Jadi sebuah rumah panggung yang awalnya ditopang kaki2 mungil yang kosong kini mulai berselimutkan dinding sebagai tempat penyimpanan yang aman.



Tak terasa hari langit semakin jingga.. Saatnya untuk beristirahat, panitia telah menyiapkan tempat2 khusus untuk untuk undangannya. Dimana lagi selain di rumah penduduk yang bersedia berbagi ruang sedikit dengan kami para pelancong.. Kebetulan kami mendapatkan sebuah tempat tinggal seorang nenek tua yang begitu ramah.. Rumah mungil nan cukup nyaman menjadi tempat memejamkan mata semalam.. Karena esok waktunya berpisah dengan rumah-rumah unik ini..


Pagi pun tiba, sarapan telah disantap.. saatnya berangkat.. Tak lupa terimakasih sebesar-besarnya kepada sang nenek atas kemurahan hatinya.. Kami beranjak sambil melambaikan tangan “Sampai Jumpa Nek..!!”

11/10/08

SEMARANG dan KOTA TUA -nya


27 Juli 2007, sebungkus nasi liwet mengawali perjalanan di sejuknya pagi kota Semarang. Perut kenyang, deretan kaki lima yang bersih dan tersusun rapi itu pun kami tinggalkan menuju penginapan kecil dengan udara buatan yang cukup membuat beku. Sejenak dalam beribu-ribu detik kami beristirahat, makan siang pun siap untuk disantap untuk sebagai cadangan energi. Hmm, setelah sempat adu pendapat tujuan pertama pun bermula pada sebuah bangunan ter-anyar kota itu, apa lagi.. selain Masjid Agung Jawa Tengah yang adanya di Semarang dengan empat payung raksasa nan sangat mahal harganya...



Selesai beribadah dan sejenak mengagumi kemegahan dan keindahan sebuah bongkahan masa karya arsitek itu, benakpun mulai bergejolak untuk menghilangkan dahaga diterik mentari yang cukup mematangkan kulit. Salah seorang yang telah lama mengenal Semarang menyarakan untuk mengunjungi sebuah toko es-krim yang katanya sudah ada sebelum proklamasi.. wah? Ternyata benar, kepala 7 telah disandang oleh toko yang menghadirkan semangkuk kecil eskrim sejuk yang... u yeah, it’s f****n’ delicious...



Slurp.. Seteguk air putih dan mulailah melangkah ke KOTUWALK (Kota Tua Walk), tepatnya menuju area Semarang Utara. Setelah sampai dan sejenak melirik-lirik.. 1 hal penting yang saya tangkap dari kota tua ini, suasana lama sungguh terasa.. banyaknya pejalan kaki, sepeda, becak, tik tak tik tuk suara sepatu kuda.. yah, walaupun ada beberapa mobil yang berseliweran.. Dalam langkah-langkah kecil kami, kamera pun siap dalam genggaman. Perjalanan yang diwarnai dengan kepanasan namun penasaran itupun berlanjut, gereja tua yang sering dipanggil IMANNUEL menyambut dengan hangat, kemegahan arsitektur colonial nan sedikit renaissance dengan 4 pilar utama sebagai ciri wajah rupawannya.



Gang-gang kecilpung satu persatu dilalui dengan sabar sambil menghela dada akan keindahan pengisi kota tua ini, yaitu bangunan-bangunan peninggalan yang memiliki variasi dalam nasib. Ada yang bernasib mujur seperti si-IMMANUEL itu, ada yang semi operasi plastik dengan “adaptive re-use”nya, serta ada pula yang terabaikan yang terkadang menimbulkan “ke-tidakpositifan”. Namun semuanya itu memang merupakan sebuah identitas yang sudah melekat pada apa yang namanya kota-kota tua.



Keberhasilan pemerintah kota Semarang dalam menjaga dan melestarikan kota tuanya patut diacungi jempol, kota tua yang begitu hidup dan nyaman bisa dinikmati oleh para pelancong. Memang keberhasilan ini merupakan komitmen pemerintah kota Semarang dalam mencapai “SEMARANG KOTA WISATA”.




Jalan demi jalan, bangunan demi bangunan, serta selokan demi selokan pun telah dikelilingi.. Perjalanan berkeliling yang ditempuh selama hampir 25% hari itu cukup melelahkan dan membuat perut kembali “keroncongan”.. gruk.. gruk..



Sambil duduk-duduk di pinggir jalan ditemani mentari jingga nan menenangkan, lihat kiri-lihat kanan.. heran?? Sudah pukul 1 jam sebelum magrib, mengapa tidak ada kendaraan bermotor yang seliweran lagi..? Padahal, sekitar pukul segitu merupakan jam pulang kantor, dan hari itu merupakan hari kerja.. Sambil penasaran, kami pun bertanya-tanya agar tidak sesat di jalan, ting!! Jawaban tegas dari seorang bapak paruh baya yang tampak sangat familiar dengan kota ini benar-benar mencengangkan dan menambahkan 1 jempol lagi buat kota tua ini... Ternyata mulai pukul 5 sore kota tua ini benar-benar menjadi SCW.. yang dipanjangkan “Semarang City Walk”, sangat unik..




Perut keroncongan-pun sudah tidak sanggup ditahan lagi, perjalanan diakhiri dengan mencari pengisi perut.. Tapi tetap di kota tua SCW. Sisi waduk kota-pun jadi pilihan karena jajanan sore yang sungguh khas telah siap dengan tendanya, dengan suasanan yang sungguh mengasyikan. Lampu-lampu kota khas “ja-dul” bagaikan prajurit penjaga kota yang gagah mulai memamerkan cahaya kuning keemasannya. Perut kenyang dan siap membawa berita.